Medan | suaraburuhnasional.com – Di tengah eskalasi dinamika kejahatan transnasional dan kompleksitas migrasi global, fungsi keimigrasian modern dituntut untuk bertransformasi secara fundamental. Tidak lagi sekadar berpusat pada kedaulatan teritorial di Pemeriksaan Keimigrasian (TPI), Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan membuktikan keberhasilannya dalam mengimplementasikan pendekatan keimigrasian yang preventif, inklusif, dan berbasis partisipasi masyarakat (community-based policing).
Atas konsistensi dan efektivitas strategi tersebut, Imigrasi Belawan sukses memborong dua penghargaan prestisius tingkat nasional pada ajang Bimbingan Teknis Petugas Imigrasi Pembina Desa (Pimpasa) Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Intelijen Keimigrasian di Hotel Novotel Tangerang, Banten (28–30 Oktober 2026).
Dalam perhelatan strategis tersebut, Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan dinobatkan sebagai Kantor Imigrasi Teraktif Kedua dalam Pelaksanaan Program Desa Binaan Imigrasi. Keberhasilan institusional ini kian sempurna setelah salah satu personel terbaiknya, Bayu Segara, dianugerahi penghargaan individu sebagai Petugas Imigrasi Pembina Desa (Pimpasa) Teraktif Keempat. Trofi apresiasi diserahkan secara simbolis oleh Direktur Intelijen Keimigrasian, Kombes Pol. Agus Waluyo, S.I.K., kepada Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk.
Pencegahan TPPO Melalui Sistem EWS Berbasis Komunitas
Capaian ini menjadi indikator keberhasilan Imigrasi Belawan dalam mengintegrasikan fungsi intelijen keimigrasian dengan edukasi literasi hukum di tingkat akar rumput. Melalui pilar Pimpasa, petugas tidak hanya bertindak sebagai pengawas, tetapi juga sebagai fasilitator yang membangun Early Warning System (EWS) sosial di desa-desa binaan.
Langkah ini dirancang secara sistematis untuk memitigasi kerawanan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (People Smuggling), sekaligus memberikan perlindungan holistik bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari praktik unprocedural migration.
”Penghargaan ini bukan sekadar validasi atas capaian kinerja, melainkan sebuah tanggung jawab institusional untuk terus mengoptimalkan peran Pimpasa sebagai jembatan korelasi antara Imigrasi dan masyarakat. Kami berkomitmen memperkuat tindakan preventif-edukatif melalui kolaborasi inter-agensi dan partisipasi publik,” tegas Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan, Eko Yudis Parlin Rajagukguk.
Forum Bimtek Pimpasa 2026 menjadi kawah candradimuka penguatan kapasitas analitis dan operasional para petugas. Pembekalan materi berspektrum luas disampaikan oleh jajaran lintas sektoral, mencakup Dittipidsiber/TPPO Bareskrim Polri, Korps Pembinaan Masyarakat Baharkam Polri, Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, hingga pakar Direktorat Jenderal Imigrasi. Fokus pembahasan meliputi pemetaan kerawanan geo-spasial, penguatan intelijen berbasis human intel (HUMINT), hingga formulasi strategi mitigasi risiko keimigrasian.
Akselerasi kinerja ini inline dengan direktif strategis Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, yang menekankan bahwa modernisasi tata kelola keimigrasian harus bersifat proaktif, responsif, serta berorientasi pada public interest. Dua penghargaan nasional telah diraih, namun komitmen perlindungan kedaulatan dan masyarakat terus berjalan secara berkelanjutan.
Kantor Imigrasi Kelas II TPI Belawan menegaskan posisinya sebagai institusi yang tidak hanya menjaga batas negara, tetapi juga hadir memberikan kemaslahatan dan kepastian hukum nyata demi terwujudnya doktrin “Imigrasi untuk Rakyat”. (Liputan: Nelson Siregar)
















