Belawan | suaraburuhnasional.com – Di saat fajar Ramadan menyingsing, membawa kedamaian dan panggilan suci bagi umat untuk bersujud, sebuah ironi justru tumbuh subur di sudut-sudut gelap wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan. Di balik kepulan asap dan riuh mesin elektronik, sebuah imperium gelap sedang berpesta di atas puing-puing ekonomi masyarakat, Jumat (6/2/2026).
Nama Pipit bukan lagi sekadar nama biasa; ia telah menjelma menjadi “legenda kelam” yang dibisikkan di setiap lorong. Dari basisnya di gang sempit Unikampung, Belawan I, sosok ini yang diduga kuat mengendalikan jejaring judi ketangkasan (tembak ikan) yang guritanya menjangkau hampir seluruh pelosok wilayah. Mulai dari tepian rel Jalan Sumatera, hiruk-pikuk Jalan Veteran, hingga menyusup ke jantung kawasan Marelan, Tanjung Mulia, dan Kawasan Industri Medan (KIM).
Seolah memiliki “perisai tak kasat mata”, mesin-mesin judi tersebut terus berputar tanpa henti. Mereka menelan setiap keping rupiah yang seharusnya menjadi penyambung hidup keluarga, terutama di tengah persiapan menyambut Hari Kemenangan yang kian dekat.
Jeritan di Bulan Suci
Ketimpangan sosial ini memicu keprihatinan mendalam dari Tokoh Agama, Ustadz Ilham Maulana. Saat ditemui awak media baru ini di kediamannya di Jalan Bawal, Kelurahan Belawan Bahagia, nada bicaranya sarat akan kekecewaan. Beliau menyuarakan jeritan hati para ibu dan anak yang menjadi korban bisu dari keganasan meja judi.
”Tatanan ekonomi masyarakat sedang dihancurkan secara sistematis. Uang yang seharusnya digunakan untuk menyambut Idul Fitri justru kandas tak berbekas di atas meja judi. Ini adalah luka menganga di tengah bulan yang suci,”ungkapnya dengan nada getir.
Ustadz Ilham Maulana mendesak agar pihak kepolisian lebih kooperatif dan peka terhadap penyakit masyarakat ini. Ia mempertanyakan standar ganda penertiban yang terjadi di lapangan. Mengapa praktik judi di kawasan Gabion bisa ditutup, sementara di titik lain justru melenggang bebas tanpa tersentuh hukum?.
Dalam sebuah pernyataan yang cukup menohok, beliau melontarkan sindiran tajam terkait integritas oknum di wilayah tersebut. ”Ibaratnya, malaikat pun kalau diutus ke Belawan, jika tidak kuat iman, lama-lama bisa terkontaminasi,” kelakarnya sembari menekankan agar para pejabat benar-benar memegang amanah Tri Brata untuk melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat secara nyata, bukan sekadar slogan.
Kini, publik di Belawan bertanya-tanya: Di mana wibawa hukum? Sejauh mana komitmen Polres Pelabuhan Belawan dalam menjaga kesucian Ramadan dan melindungi warga dari jerat perjudian yang terorganisir?. Pembiaran ini seolah menciptakan persepsi adanya “mata yang tertutup” secara sengaja.
Keadilan tidak boleh bertekuk lutut di hadapan tumpukan uang taruhan. Kepada sang “Ratu” dan para kroninya, masyarakat hanya menitipkan satu pesan: bertobatlah sebelum hukum baik hukum manusia maupun hukum Tuhan mengetuk pintu dengan cara yang paling keras.
Sudah saatnya aparat bertindak tanpa pandang bulu, membersihkan noda perjudian dari Tanah Belawan, dan mengembalikan hak masyarakat untuk beribadah dengan tenang tanpa bayang-bayang kriminalitas yang merajalela. (Liputan: Nelson Siregar)


