Langkat | suaraburuhnasional.com – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jaringan Wartawan Indonesia (JWI) Kabupaten Langkat membawa persoalan buruknya hasil kinerja pada proyek rehab berat Jembatan Titi Panjang, Kecamatan Padang Tualang untuk dibahas di Komisi IV DPRD Kab. Langkat. Jum’at, (25/9/2026).
Rapat Dengar Pendapat (RDP) tersebut dipimpin oleh Mahalli, ST, S.Pd Sekretaris Komisi IV didampingi Riki Sapariza Anggota, M. Rizki Rifa’i, SH Anggota, turut hadir perwakilan Dinas PUTR Munir PPK, Nurdin PUTR, Muhammad Izwanda, SE, M.SP Camat Padang Tualang, Bahrum, SE Camat Hinai, Agus Jenggot Ketua DPD JWI, Rahmad Tamin Sekretaris, Sumardi Ketua DKK dan Z. Nur.
Dalam RDP tersebut juru bicara DPD JWI Kab. Langkat Rahmad Tamin Sekretaris menyoroti beberapa hal antara lain, 1. Tingginya elevasi antara jembatan dan jalan sehingga membahayakan bagi pengguna jalan yang melintasi jembatan tersebut. 2. Hasil cor jembatan yang tidak rata, bergelombang sehingga jika turun hujan air tergenang di jembatan. 3. Awalnya anggarannya Rp.400 juta kemudian berubah menjadi Rp.775.870.000 tapi mengapa ada dua besi “H” yang sudah berkarat dan keropos tapi tidak diganti. 4. Jembatan alternatif setelah selesai pengerjaan rehab jembatan tidak dirubuhkan atau tidak disingkirkan sehingga mengurangi estetik jembatan. Tampak kumuh dan di khawatirkan jika air sungai meluap maka sampah yang hanyut akan tersangkut dan mengakibatkan air akan meluap. Begitu juga batang kelapa yang untuk cagak cor besi tikar jembatan belum dicabut.
Munir PPK PUTR menjelaskan, bahwa dari awal anggarannya memang Rp.775.870.000 tidak ada perubahan, masalah pagar pengaman yang retak itu karena adanya getaran dari truck dan tangki CPO yang kapasitasnya cukup berat dan itupun sudah kami perbaiki. Untuk ganjal batang kelapa itu hanya penahan cor sementara saja dan untuk jembatan alternatif yang belum dibongkar nanti akan kami koordinasikan lagi dengan rekan kontraktor untuk mohon dibongkar, ujar Munir.
Terkait kenaikan anggaran dari awalnya Rp 400.000.000 menjadi Rp.775.870.000 Nurdin PUTR menambahkan, bahwa anggaran tersebut berubah setelah konsultan survey ke lokasi jembatan ada gelagar besi yang hilang dan harus diganti. Sementara gelagar besi pada segmen ketiga yang masih diganjal batang kelapa menurut konsultan masih cukup kuat utk menahan beban beton yang akan dicor.
Direncanakan setelah 1 tahun barulah akan diaspal tapi nyatanya di anggaran ini tidak tercover dananya untuk diaspal. Pada anggaran sebelumnya memang di RAB tidak ada masuk anggaran untuk pengaspalan jembatan. Oleh karena itu kami harapkan Komisi IV membantu supaya bisa dianggarkan segera, ujar Munir.
Pimpinan Rapat Mahalli ,ST, S.Pd juga mempertanyakan mengapa PUTR ketika membuat pembangunan tidak ada komunikasi dengan muspika setempat. PUTR ini ketakutannya luar biasa sekali, biasanya orang takut itu karena salah, saya bukan menjustifikasi bapak salah tapi komunikasi itu penting supaya tidak terjadi prasangka buruk yang akhirnya dibenarkan oleh masyarakat, tegas Mahalli.
Agus Jenggot Ketua DPD JWI Langkat menambahkan, bahwa waktu pengerjaan proyek rehab jembatan inikan cukup lama mengapa masalah yang sudah mencuat ini tidak segera diperbaiki hingga terjadilah RDP ini dan harus menghadirkan pak Camat. Makanya jangan ada yang ditutup tutupi, kita tahulah kondisi Langkat saat ini tidak baik-baik saja. Saya sepakat dengan pimpinan rapat agar media dilibatkan dalam pemberitaan untuk klarifikasi. Kalau sampai terjadi korban pasti masyarakat mempertanyakan kepada DPRD kan?. Tegas Agus Jenggot.
Pimpinan Rapat Mahalli, ST, S.Pd menambahkan mohon kedepannya harus lebih baik, termasuk dengan rekan-rekan media yang menjadi corong suara masyarakat. Ketika yang disampaikan rekan-rekan media memang proporsional maka harus didengarkan dan ditanggapi dengan baik.
Hasil RDP dengan Komisi IV DPRD Langkat memerintahkan dengan segera untuk mengatasi elevasi jembatan dan jalan agar dibuat landai, kalau bisa pun hari ini juga dikerjakan. Kemudian jembatan alternatifnya harus segera dibongkar apalagi ini sudah bulan September curah hujan tinggi nanti bisa membuat air meluap, ujar Mahalli menutup rapat. (J.Malau)
















