Belawan | suaraburuhnasional.com – Di tengah eskalasi dinamika geopolitik kawasan dan kompleksitas transnational organized crime di jalur perairan vital, Komando Daerah Angkatan Laut I (Kodaeral I) mengukuhkan komitmennya sebagai entitas penegak kedaulatan yang presisi, adaptif, dan berintegritas. Bertempat di Makodaeral I, Belawan, Kodaeral I menggelar Latihan Penegakan Hukum di Laut TA 2026 pada 7–8 September 2026. Agenda ini menegaskan doktrin mendasar: proyeksi kekuatan militer maritim harus senantiasa berjalan linier dengan kepastian hukum (rule of law).
Latihan strategis ini dibuka secara resmi oleh Wakil Komandan Kodaeral I, Brigjen TNI (Mar) Ali Bahar Saragih, S.E., M.M., mewakili Komandan Kodaeral I di Gedung Yos Sudarso. Akselerasi legal literacy dan law enforcement capability bagi segenap personel menjadi imperatif mutlak, mengingat kawasan perairan barat Indonesia merupakan Sea Lanes of Communication (SLoC) berbobot geostrategis tinggi yang rentan terhadap ancaman asimetris seperti Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing, insiden pelanggaran batas yurisdiksi, hingga kejahatan siber-maritim.
Operasional
Secara metodologis, skenario latihan dikonstruksikan untuk menyelaraskan tindakan taktis lapangan dengan konvensi hukum laut internasional (UNCLOS 1982) serta estatuta hukum nasional yang berlaku. Para prajurit digembleng tidak hanya pada keahlian instingtif Visit, Board, Search, and Seizure (VBSS), tetapi juga pada penguasaan due process of law mencakup analisis yurisdiksional, preservasi corpus delicti (barang bukti) demi integritas pembuktian, hingga protokol inter-agency coordination yang akuntabel.
Dalam amanatnya, Brigjen TNI (Mar) Ali Bahar Saragih menggarisbawahi bahwa tata kelola hukum merupakan kompas utama yang menuntun keabsahan setiap instrumen taktis di tengah laut. ”Setiap tindakan preventif maupun represif wajib memenuhi asas proporsionalitas, profesionalitas, dan ketaatan yurisdiksional. Wibawa kedaulatan negara di laut tidak semata-mata diukur dari keberadaan armada, melainkan dari konsistensi kita dalam mengoperasikannya secara sah dan terukur,” tegas Wadan Kodaeral I.
Mewujudkan Postur Pertahanan Maritim yang Berdaya Gentar High-Level
Rangkaian kegiatan selama dua hari dirancang secara progresif. Hari pertama difokuskan pada sublimasi teori ketaatan hukum, legal reasoning, serta tactical drill terintegrasi. Tahapan tersebut dimantapkan pada hari kedua melalui pemantapan efektivitas Command and Control (C2) sebelum ditutup secara resmi.
Melalui konsolidasi doktrinal ini, Kodaeral I tidak sekadar melatih prajurit secara mekanis, melainkan mencetak ksatria samudra yang unggul secara intelektual dan taktis. Kodaeral I memastikan seluruh ruang laut nasional dalam wilayah kerjanya dikelola dengan standar hukum ketat, menciptakan efek gentar (deterrence effect), serta memperkokoh stablilitas keamanan maritim Indonesia di kancah internasional. (Liputan: Nelson Siregar)
















