Belawan | suaraburuhnasional – Langkah preventif berperspektif jangka panjang kembali ditegaskan oleh Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Pelabuhan Belawan. Lewat instrumen strategis Police Goes to School, kepolisian mengintervensi dinamika mobilitas remaja dengan menanamkan kesadaran kolektif berlalu lintas sejak dini. Momentum ini diwujudkan saat personel kepolisian memimpin jalannya upacara bendera di Yayasan Perguruan Kristen Hosana, Jalan Metal No. 07, Tanjung Mulia Hilir.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB ini berlangsung secara khidmat dan inklusif, disaksikan langsung oleh Kepala Sekolah SMA Hosana, Ely, S.Pd., jajaran dewan pendidik, serta ratusan pelajar yang menyerap tiap pesan edukatif secara komprehensif.
Intervensi ini didesain untuk membentuk habitus (kebiasaan terinternalisasi) baru pada karakter generasi muda. Personel Sat Lantas tidak sekadar menyampaikan imbauan normatif, melainkan memberikan pemahaman mendalam mengenai dekodifikasi marka jalan, regulasi keselamatan berlalu lintas, hingga rasionalisasi ilmiah di balik kewajiban penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) berstandar SNI.
Penekanan tajam juga diarahkan pada jjuraspek legalitas dan perlindungan hukum bagi kelompok usia rentan. Pelajar kategorial minor yang secara administratif belum memiliki KTP maupun SIM diimbau keras untuk tidak mengoperasikan kendaraan bermotor secara mandiri. Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan preventif untuk menekan vulnerability (kerentanan) remaja terhadap risiko kecelakaan di jalan raya.
Akselerasi.
Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Aditya S.P. Sembiring, M., SIK., melalui Kasat Lantas AKP Andi K. Barus, SH., MH., menegaskan bahwa pendekatan persuasif-edukatif ini merupakan bagian dari integrated traffic management system demi menciptakan ruang jalan raya yang kondusif.
”Budaya tertib lalu lintas tidak tumbuh secara spontan, melainkan hasil dari konstruksi sosial dan pembiasaan yang konsisten. Edukasi di lingkungan sekolah merupakan upaya fundamental untuk mentransformasi ketaatan hukum—dari yang semula bersifat kompulsi (paksaan) menjadi kesadaran etis yang melekat pada kepribadian siswa,” tegas AKP Andi K. Barus.
Melalui penguatan literasi keselamatan ini, kepolisian menargetkan lahirnya para safety pioneer (pelopor keselamatan) dari kalangan pelajar yang mampu membawa dampak pergeseran paradigma (paradigm shift) positif, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.
Sinergi taktis antara kepolisian dan lembaga pendidikan ini mendapat respons antusias dari warga sekolah, sekaligus menegaskan komitmen bersama dalam mewujudkan ekosistem transportasi publik yang aman, tertib, dan humanis di wilayah hukum Polres Pelabuhan Belawan. (Nelson Siregar/Hms)















