Nagan Raya | suaraburuhnasional.com -Udara cerah di Bandara Cut Nyak Dhien, Kabupaten Nagan Raya, terasa berbeda pada Senin pagi, 2 November 2026. Deru mesin pesawat kecil yang mendarat mulus di landasan tak hanya membawa kabar beroperasinya kembali maskapai Susi Air, tetapi juga memutar kembali ingatan kolektif tentang sejarah panjang yang tertulis lebih dari dua dekade lalu.
Dari pintu pesawat, Susi Pudjiastuti melangkah keluar. Senyum hangatnya disambut pengalungan bunga oleh Bupati Nagan Raya, Dr. TR. Keumangan, S.H., M.H. (TRK), yang didampingi Wakil Bupati Raja Sayang, Bupati Aceh Barat Tarmizi, S.P., serta jajaran Forkopimda.
Pertemuan pagi itu bukan sekadar seremoni penerbangan perdana, melainkan nostalgia tentang ikatan batin yang tak pernah putus. Bagi Susi Pudjiastuti, tanah Nagan Raya dan Meulaboh memiliki ruang istimewa di hatinya. Ingatannya melayang pada momen kelam 28 Desember 2004 hanya dua hari setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat meluluhlantakkan Aceh.
Kala itu, dengan dua unit pesawat perintis yang dibelinya untuk usaha perikanan, Susi terbang membawa bantuan kemanusiaan ke tanah yang sedang berduka. ”Awal mula Susi Air lahir di Nagan Raya, Aceh. Karena itu, daerah ini memiliki sejarah tersendiri bagi perjalanan kami. Tanpa Nagan Raya, mungkin perjalanan Susi Air tidak akan seperti sekarang,” kenang Susi emosional.
Kini, penerbangan yang pernah menjadi penolong di masa kritis itu kembali membuka sayapnya untuk merajut konektivitas kawasan. Mengubungkan Nagan Raya dengan Banda Aceh dan Medan empat kali sepekan (Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu), Susi Air menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga, efisiensi waktu, hingga kelancaran roda pemerintahan.
Bagi Bupati TRK, kembalinya Susi Air adalah batu pijakan penting bagi kabupaten hasil pemekaran Aceh Barat sejak 2002 ini. Dengan 10 kecamatan yang terus bersolek, Nagan Raya kini kian siap memikat mata para investor.
”Kehadiran Ibu Susi merupakan keberkahan dan kebanggaan bagi kami. Akses udara yang makin terbuka akan memudahkan mobilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan membuka lebar peluang investasi,” ujar TRK optimistis.
Komitmen senada ditegaskan oleh Kepala Kantor UPBU Kelas II Cut Nyak Dhien, Fanani Zuhri. Pengelolaan bandara akan terus dioptimalkan agar penerbangan yang hemat waktu ini berjalan berkelanjutan dan memberi dampak langsung bagi kemajuan kawasan pesisir barat Aceh.
Di luar urusan penerbangan, geliat pembangunan di Nagan Raya juga sedang bersiap menyambut momen bersejarah lainnya. Pada 11 November 2026 mendatang, lebih dari 13.000 warga dijadwalkan berkumpul membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 24 kilometer membentang dari Bandara Cut Nyak Dhien hingga Masjid Giok Baitul A’la di Suka Makmue.
Dari landasan Bandara Cut Nyak Dhien, deru baling-baling Susi Air yang kembali mengudara kini tak lagi memuat duka kemanusiaan seperti 22 tahun silam, melainkan mengangkut harapan baru tentang konektivitas, investasi, dan kemajuan Nagan Raya di masa depan. (Didit)
















