23.1 C
Munich
Jumat, Juli 31, 2026

Di Balik Narasi Megah Pertumbuhan Logistik 5 Persen: Realitas Pahit di Belawan, Alat Berat Rusak dan Infrastruktur Lumpuh

Must read

 

​Belawan | suaraburuhnasional.com – Klaim manis mengenai pertumbuhan volume logistik nasional sebesar 5 persen belakangan ini membentur dinding realitas yang kelam di gerbang ekonomi Sumatra Utara. Di balik angka-angka statistik yang dipamerkan di atas kertas, denies operasional di Belawan New Container Terminal (BNCT) dan Pelabuhan Multi Terminal (PMT) baik dermaga Internasional maupun Domestik justru berada dalam kondisi memprihatinkan akibat carut-marut manajemen fasilitas dan infrastruktur.

​Hal ini diungkapkan secara gamblang oleh Ketua Serikat Pekerja Transportasi Nusantara (SPTN) PUK Angkutan Logistik Pelabuhan Belawan, Patar Panjaitan, saat berbincang hangat namun sarat kritik bersama awak media online suaraburuhnasional.com, Jumat (31/7/2026) pagi.

Menurutnya, ironi besar tengah terjadi di salah satu urat nadi perdagangan terpenting di Indonesia ini. ​Dua Sisi Mata Uang: Statistik Semu vs Realitas Lapangan,  Patar menegaskan bahwa klaim kenaikan volume barang tidak sebanding dengan kesiapan sarana pendukung di lapangan. Bukannya menikmati peningkatan efisiensi, para pelaku industri transportasi darat justru dipaksa menelan pil pahit akibat minimnya kesiapan alat berat operasional dan rusaknya akses jalan vital pelabuhan.

​”Kita tidak bisa terus dibuai oleh narasi pertumbuhan angka jika realitas di lapangan menunjukkan kemunduran efisiensi. Di BNCT dan PMT, alat-alat berat vital kerap mengalami kerusakan parah. Bagaimana mungkin arus barang diklaim lancar jika alat bongkar muatnya saja sering ‘lumpuh’?,”ujar Patar Panjaitan tegas.

​Dampak terbesar dari kelumpuhan fasilitas ini dihantamkan langsung kepada para pengemudi angkutan barang (truk logistik). RB, salah seorang pengemudi kontainer yang ditemui di area pelabuhan, menyampaikan jeritan hati ribuan rekannya yang saban hari terdampar dalam ketidakpastian.

​Pengemudi dipaksa mengantre sejak siang hingga malam hari hanya untuk menunggu giliran proses bongkar muat yang lambat.​Terhentinya armada (idle time) memangkas tingkat ritase pengiriman, yang secara langsung menggerus pendapatan harian para sopir dan perusahaan angkutan. ​Akses jalan utama pelabuhan yang rusak parah, penuh lubang dalam dan bergelombang, tidak hanya mengancam keselamatan jiwa tetapi juga mempercepat laju kerusakan armada angkutan.

​Melihat situasi yang kian mengkhawatirkan ini, PUK Angkutan Logistik Pelabuhan Belawan mendesak pihak pengelola terminal, BUMN terkait, dan regulator pelabuhan untuk tidak menutup mata. ​Patar Panjaitan menekankan bahwa perbaikan tidak boleh sekadar bersifat ‘kosmetik’ atau tambal sulam belaka. Diperlukan peremajaan alat berat yang transparan, revitalisasi jalan dermaga yang permanen, serta komitmen nyata untuk mewujudkan Operational Excellence.

Pelabuhan Belawan bukan sekadar pelabuhan transito, melainkan pilar penyangga ketahanan pangan dan industri kawasan barat Indonesia. Menbiarkan Belawan terjebak dalam krisis alat berat dan infrastruktur damaged sama saja dengan membiarkan biaya logistik nasional membengkak sebuah beban mahal yang pada akhirnya harus dibayar oleh masyarakat luas. (Liputan : Nelson Siregar)

- Advertisement -spot_img

More articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest article