Belawan | suaraburuhnasional.com – Dalam merespons tantangan degradasi moral dan modernitas, Komunitas Ibu-Ibu Medan Utara Bertasbih dan Bersalawat di bawah naungan Majlis Taklim Tazkiyatu Al Qulub Maulana kembali mengukuhkan eksistensinya. Melalui program rutinitas bulanan dan triwulanan yang berbasis pada penguatan masjid dan mushalla, lembaga ini menginisiasi rihlah ilmiah-ruhani berupa pelatihan Manasik Haji Kontekstual, Minggu (13/9/2026).
Agenda kolektif yang dipimpin langsung oleh tokoh agama, KH. Ilham Maulana, S.HI., M.H., ini difokuskan pada rekonstruksi akhlak dan internalisasi nilai-nilai teologis, sekaligus menempatkan perempuan pada posisi strategis sebagai ‘Imadud Daulah’ atau tiang penopang keadaban bangsa.
Kegiatan spiritual ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026. Mobilisasi jamaah akan menggunakan armada 2 bus pariwisata, bertolak secara serentak dari pelataran Masjid Sa’adah, Jalan Sembilang, tepat pukul 06.30 WIB menuju Masjid Agung Sei Rampah. Secara epistemologis, pelaksanaan manasik haji ini tidak sekadar diposisikan sebagai gladi teknis ritual (furu’iyah), melainkan sebagai ruang edukasi holistik. Para peserta akan dibekali pemahaman mendalam mengenai esensi Haji Mabrur, internalisasi keikhlasan, serta transformasi spiritual yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tinjauan sosiologi keluarga, perempuan memegang peranan krusial sebagai agen sosialisasi primer. Majlis Taklim Tazkiyatu Al Qulub Maulana memandang bahwa penguatan karakter (character building) berbasis syariat adalah investasi sosial paling krusial untuk melahirkan generasi yang bertakwa.
”Keberadaan kaum ibu bukan hanya melengkapi struktur sosial, melainkan menjadi fondasi utama penentu kualitas peradaban. Melalui dzikir, salawat, dan pendalaman ilmu ibadah ini, kita melakukan revitalisasi mental dan moral agar para ibu tangguh menghadapi dinamika zaman,” tegas KH. Ilham Maulana, S.HI., M.H, saat ditemui di kediamanya di Belawan Bahagia pagi tadi.
Perjalanan religi menuju Masjid Agung Sei Rampah ini diharapkan menjadi katalisator dalam menciptakan harmonisasi antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Dengan memadukan riyadhah spiritual (dzikir dan sholawat) serta wawasan fikih ibadah yang komprehensif, kegiatan ini menegaskan komitmen majelis dalam mencetak masyarakat beradab (madani).
Insya Allah, seluruh rangkaian perjalanan ibadah ini berjalan khidmat, penuh keberkahan, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan ummat dan bangsa. (Liputan : Nelson Siregar)
















