Toba | suaraburuhnasional.com – Calon Doktoral sekaligus Dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) GPDI Pematang Siantar, Mona Welta Saliama, S.Th , M.Pd, menyoroti krisis moral dan etika yang kini melanda generasi muda, terutama Gen Z. Hal itu disampaikannya saat berbincang dengan wartawan di Balige, Kabupaten Toba, Rabu (29/10/2026).
Mona menilai, saat ini telah terjadi krisis moral dan krisis etika di semua kalangan usia, tidak hanya anak muda. Banyak orang lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dan mengurangi ruang perjumpaan dengan orang lain karena sudah nyaman dengan dunianya sendiri, terutama gadget.
Padahal, menurutnya, sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri. Firman Tuhan juga mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dan pentingnya hidup dalam persekutuan.
Ia mengenang, di tahun 80-an, penghormatan terhadap orang tua masih sangat kental. Anak-anak masih memiliki sopan santun dan rasa takut akan Tuhan. Namun kini nilai tersebut sudah mulai luntur. “Tidak ada orang tua yang tidak mendidik anaknya dengan baik. Tapi pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan baik. Itu sesuai dengan yang tertulis dalam 1 Korintus 15:33,” ujar Ibu Mona.
Ia juga menyoroti pergeseran pergaulan remaja saat ini. Jika dulu berpacaran hanya berpegangan tangan saja sudah dianggap tabu, kini banyak yang menganggap wajar berhubungan di luar batas etika agar hubungan tetap awet. Menurutnya, hal itu sudah salah secara moral dan di hadapan Tuhan.
“Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Kalau moralnya rusak, rusak juga cikal bakal bangsa dan masa depan gereja. Banyak kejahatan, narkoba, perzinahan, semua berawal dari hilangnya nilai agama dalam diri,” katanya.
Mona berharap pemerintah lebih peka dan membuka wadah kolaborasi bersama akademisi dan gereja dalam pembinaan karakter generasi muda. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, namun wadah untuk bersinergi masih minim.
“Seharusnya pemerintah welcome dengan hal seperti ini. Tidak semua bisa dipikirkan pemerintah. Harus ada yang mendobrak. Gereja dan Akademis siap jadi mitra. Kita tidak hanya bicara intelektual, tapi juga pemulihan akhlak dan iman,” tuturnya.
Mengenai Jabatan Fungsional (Jafung) dan Sertifikasi Dosen (Serdos), Ibu Mona mengakui hingga kini masih sulit untuk mendapatkannya. Banyak dosen harus mencari pekerjaan tambahan untuk menghidupi keluarga dan hidup dalam keterbatasan.
Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan Gen Z. Dirinya meyakini bahwa berkat dan otoritas datangnya dari Tuhan.
“Meskipun sulit mendapatkan Jafung dan Serdos, saya tidak berhenti untuk peduli dengan dunia Gen Z sekarang. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?. Tugas kita sebagai pendidik bukan hanya mengajar, tapi membawa mereka kembali kepada nilai-nilai kebenaran firman Tuhan. Kalau menunggu orang lain berubah, kapan?. Harus dimulai dari diri kita,” pungkas Mona. (Tim)
















