Belawan | suaraburuhnasional.com – Asas pemerataan pembangunan yang berkeadilan sosial seyogianya menjadi manifestasi nyata dari kehadiran negara. Namun, di kawasan perkebunan Kabupaten Simalungun tepatnya sepanjang jalur vital Simpang Mangga menuju Bandar Betsy (Jalan Perkebunan / Letda Sujono), Kecamatan Bandar Huluan masyarakat justru harus menelan pil pahit akibat stagnasi infrastruktur yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Berdasarkan investigasi visual dan pemantauan faktual di lapangan pada Kamis (5/11/2026), tampak ketimpangan (disparitas) pembangunan yang sangat mencolok. Pengerjaan pengaspalan jalan terkesan tidak komprehensif dan terhenti di tengah jalan. Bagian depan Simpang Mangga menuju arah Serbalawan memang sempat tersentuh perbaikan, namun akses vital yang melintasi kawasan perkebunan Bandar Betsy dibiarkan dalam kondisi destruktif: permukaan jalan hancur, berlumpur pekat saat hujan, serta dipenuhi lubang-lubang berdiameter besar menyerupai kubangan.
Kondisi infrastruktur yang tidak layak ini bukan sekadar mengganggu kenyamanan bermobilitas, melainkan telah menciptakan ancaman fatalitas yang nyata bagi pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua. Jalur yang licin dan berlubang kerap memicu kecelakaan lalu lintas yang memakan korban cedera hingga kerugian materiil.
Sejumlah warga pendatang yang melintasi lokasi dengan kendaraan bak terbuka menyuarakan keprihatinan mendalam atas minimnya perhatian dari pemangku kebijakan daerah terhadap keselamatan warga perkebunan.
”Inilah kondisi riil kampung kami, jalur dari Simpang Mangga menuju Bandar Betsy. Pembangunannya sangat setengah-setengah dan tidak tuntas. Kami memohon perhatian serius dari Bupati Simalungun, Camat, hingga Lurah setempat untuk melihat langsung penderitaan rakyat di sini. Sangat tidak elok jika keselamatan anak-anak sekolah dan warga terus dikorbankan di jalan rusak ini,” turur Leo Hutapea Ketua PAC Tim Cepat PBB Belawan dengan nada prihatin saat melintasi jalur tersebut dalam kunjungan rindu kampung halamannya.
Menanggapi krisis infrastruktur yang menahun ini, Pengamat Publik terkemuka, BM orang dekat dengan RI 1 melayangkan analisis kritis dari kediamannya di kawasan Marelan. Ia menegaskan bahwa pembiaran terhadap infrastruktur dasar merupakan kelalaian sistematis yang berdampak langsung pada pelemahan struktur ekonomi kerakyatan.
”Kami mendesak Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Kepala Daerah untuk segera mengambil langkah taktis serta mengalokasikan anggaran prioritas bagi rehabilitasi total ruas jalan ini. Pemerintah tidak boleh bersikap pasif dan baru merespons setelah terjadi insiden fatal yang memakan korban jiwa,” tegas BM.
Lebih jauh, BM menekankan pentingnya pemerintah daerah melakukan reorientasi dan sinkronisasi kebijakan dengan kerangka strategis nasional yang diusung Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melalui paradigma Asta Cita. Menurutnya, efisiensi rantai pasok (supply chain) dan kemandirian ekonomi daerah tidak akan pernah tercapai selama akses mobilitas masyarakat di tingkat tapak masih terhambat.
”Asta Cita Presiden Prabowo secara tegas mengamanatkan pembangunan dari pinggiran guna memperkuat basis konektivitas dan interkoneksi ekonomi rakyat. Ruas jalan Simpang Mangga – Bandar Betsy adalah arteri utama distribusi hasil pertanian dan mobilitas tenaga kerja lokal. Jika aksesibilitas ini diperbaiki secara optimal, multi-multiplier effect terhadap perputaran ekonomi daerah akan segera terasa. Sebaliknya, pembiaran jalan rusak ini justru melestarikan keterisolasian dan kemiskinan struktural,” pungkas BM secara lugas.
Kini, urgensi penanganan jalan Simpang Mangga – Bandar Betsy berada sepenuhnya di tangan Pemerintah Kabupaten Simalungun. Masyarakat luas menanti komitmen moral dan tindakan konkret dari jajaran eksekutif daerah untuk menghadirkan jalan yang aman, layak, dan representatif demi menopang taraf hidup warga Bandar Huluan. (Tim)
















