Belawan | suaraburuhnasional.com – Pembangunan infrastruktur yang mengejar eksploitasi lahan tanpa dibarengi mitigasi tata ruang berbasis daya dukung lingkungan kembali memicu potensi krisis ekologis di pesisir Medan. Hujan deras dengan intensitas tinggi (high-intensity precipitation) yang mengguyur wilayah Belawan sejak malam hari menyisakan preseden buruk bagi mobilitas dan ruang hidup warga di Lingkungan 12 Kampung Salam,
Kelurahan Belawan Bahari, Kecamatan Medan Belawan.
Ruas strategis Jalan Raya Pelabuhan kini lumpuh total akibat akumulasi genangan air yang tak kunjung surut. Bencana hidrometeorologi skala lokal ini dipicu oleh aktivitas penembokan masif yang menutup jalur infiltrasi alami tanah. Pembangunan fisik tersebut dieksekusi tanpa diimbangi rekayasa outlet drainase primer yang presisi, sehingga mengintersepsi alur alami air dan memicu kenaikan volume limpasan permukaan (surface runoff) secara dramatis.
Kawasan Lingkungan 12 Belawan Bahari secara tipologi geologis dan ekologis pada dasarnya memegang peran vital sebagai koridor greenbelt (daerah hijau) serta zona retensi air alami. Wilayah ini secara periodik menyerap fluktuasi air, baik akibat fluks pasang-surut air laut (rob) maupun presipitasi curah hujan masif. Namun, akibat tertutupnya konduktivitas hidrolik tanah oleh material dinding komersial, daya dukung dan daya tampung lingkungan (environmental carrying capacity) kawasan penyangga ini runtuh seketika.
Saat ditemui di kantornya pada Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, tokoh masyarakat Lingkungan 12 Kampung Salam, Leo Hutapea, menyampaikan kritik tajam terkait kondisi ini kepada awak media. ”Kondisi ini tidak boleh dibiarkan menjadi status quo. Pihak pengembang seharusnya memiliki komitmen corporate environmental responsibility yang bijaksana dengan membangun sistem drainase terintegrasi melalui channelization (pembuatan parit pembuangan) yang memadai. Wilayah kami adalah resapan air alami. Sebelum ada penutupan lahan secara masif ini, baik banjir rob maupun hujan deras tidak pernah menggenang sedahsyat ini,” tegas Leo Hutapea.
Secara kalkulasi teknis hidrologi, penutupan kawasan resapan tanpa adanya perhitungan hydrological discharge (debit pengaliran) yang terukur hanya akan mengonversi air hujan menjadi genangan statis yang destruktif bagi infrastruktur publik. Jika pihak pengembang dan otoritas terkait tidak segera melakukan intervensi fisik berupa kanalisasi yang terhubung langsung ke muara utama, kawasan Belawan Bahari diproyeksikan akan terus mengalami degradasi lingkungan berkepanjangan yang berimbas pada krisis sosial ekonomi warga serta potensi kelumpuhan jaringan logistik nasional di kawasan Pelabuhan Belawan.
Masyarakat kini mendesak pemerintah daerah dan dinas lingkungan hidup untuk segera menggelar audit Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) secara komprehensif, serta menindak tegas segala bentuk pelanggaran tata ruang demi menghentikan ancaman krisis yang kian menguat. (Liputan: Nelson Siregar)















