Medan Labuhan | suaraburuhnasional.com — Di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, kegelapan malam tak lagi menjanjikan kedamaian. Dalam sepekan terakhir, jam-jam krusial menjelang subuh berubah menjadi periode paling mencekam.
Gelombang aksi anarkis oleh sekelompok Orang Tak Dikenal (OTK) berulang kali pecah, memecah keheningan dengan dentam sajam, kaca-kaca mobil yang hancur berkeping, serta dinding rumah warga yang retak diterjang amarah tak beralasan. Aksi ini jelas bukan sekadar kejahatan jalanan biasa. Ini adalah bentuk intimidasi terstruktur yang dirancang untuk merenggut hak paling mendasar masyarakat: rasa aman di dalam rumah mereka sendiri.
Jemu hidup dalam cengkeraman paranoia, puluhan warga yang didominasi para ibu rumah tangga memilih untuk melipat ketakutan dan berdiri menuntut keadilan. Pada Rabu malam (22/7/2027) pukul 21:00 WIB, Aula Kantor Kelurahan Sei Mati di Jalan Kapten Ilyas No. 26 mendadak penuh. Kecemasan yang terpendam berhari-hari tumpah dalam forum konsolidasi darurat bersama jajaran Forkopimcam dan pimpinan tertinggi kepolisian setempat.
Hadir langsung di tengah-tengah warga untuk mendengarkan jeritan hati masyarakat: AKBP Aditya Sembiring (Kapolres Pelabuhan Belawan), Kompol Raja Napitupulu (Kapolsek Medan Labuhan), Elias Padang (Camat Medan Labuhan), Kapten TNI P. Siregar (Danramil 10/Medan Marelan), Yogi Fatresya Wahyu (Lurah Sei Mati), jajaran Bhabinkamtibmas, Babinsa, para Kepala Lingkungan, serta Tokoh Pemuda Medan Labuhan, Ganda Putra Simbolon.
Modus operandi para pelaku tergolong dingin dan terencana. Berdasarkan kesaksian warga Lingkungan VI Kelurahan Sei Mati, aksi perusakan selalu mengambil pola senyap: menyelinap di kedalaman malam saat warga lelap tertidur, lalu melancarkan aksi teror tanpa memedulikan keselamatan jiwa penghuni rumah.
”Hasil rekaman CCTV milik warga menunjukkan fakta yang benderang: tak satupun dari para pelaku yang kami kenal. Mereka bukan warga Kelurahan Sei Mati. Lantas, mengapa mereka datang tiba-tiba dengan senjata tajam, merusak rumah, dan memecahkan kaca mobil kami tanpa alasan?,”tutur seorang warga berkacamata dengan nada bergetar menahan amarah.
Ia membeberkan bahwa ketenangan hidup warga kini berada di titik terendah. Rumah tinggal yang seharusnya menjadi benteng perlindungan teraman kini berganti menjadi ruang ketakutan. Seluruh rekam jejak digital berupa bukti CCTV yang merekam kebrutalan aksi OTK tersebut telah diserahkan resmi ke tangan tim penyidik.
Warga menuntut aksi nyata yang transparan dan tanpa kompromi: membeku para eksekutor di lapangan sekaligus membongkar hingga ke akar siapa aktor intelektual yang berada di balik layar.
Mengapa pemukiman Sei Mati mendadak menjadi sasaran teror bertubi-tubi?. Di balik puing perusakan fisik tersebut, bertiup kabar tak sedap mengenai motif yang jauh lebih gelap. Penyerangan ini diduga kuat bukan dipicu oleh perselisihan antartetangga, melainkan bentuk intimidasi balasan dari jaringan peredaran gelap narkotika yang merasa ruang geraknya mulai terganggu oleh ketegasan dan keberanian warga.
Dugaan krusial ini langsung direspons tegas oleh pucuk pimpinan kepolisian setempat. Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Aditya Sembiring mengonfirmasi bahwa indikasi keterlibatan gembong peredaran sabu menjadi hipotesis utama penyelidikan pihaknya.
”Dalam pertemuan tadi, warga secara terbuka menyampaikan adanya indikasi kuat bahwa aksi penyerangan ini bertautan erat dengan pengedar sabu yang dituding menjadi otak pelaku. Ini bukan hal main-main. Ini menjadi atensi khusus dan prioritas tertinggi bagi saya selaku Kapolres,” tegas AKBP Aditya Sembiring di hadapan warga.
Menanggapi eskalasi situasi Kamtibmas yang kian memanas, Kapolres mengimbau agar masyarakat Sei Mati tidak terprovokasi dan menyerahkan seluruh proses penegakan hukum kepada kepolisian. Pihaknya berjanji akan menerjunkan tim opsnal intensif dan memperketat patroli skala besar di titik-titik rawan.
Masyarakat kini menunggu pembuktian janji tersebut. Negara tidak boleh kalah oleh aksi terorisme lokal maupun gembong narkoba. Penegakan hukum yang berkeadilan, cepat, dan tuntas menjadi satu-satunya jawaban untuk mengembalikan senyum dan rasa aman warga Sei Mati. (Liputan: Nelson Siregar/TP)


