Belawan | suaraburuhnasional.com – Potensi maritime security threat di kawasan objek vital nasional kembali diredam melalui kalkulasi dan penindakan taktis yang terukur. Tim Quick Response Team (QRT) Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) I berkolaborasi dengan jajaran pengamanan Belawan New Container Terminal (BNCT) berhasil membongkar skema pencurian delapan unit kabel reefer milik kapal kargo MV. Wan Hai 101 yang tengah bersandar di Dermaga B BNCT Belawan, Selasa (8/9/2026).
Aksi kejahatan yang terdeteksi sekitar pukul 02.00 WIB tersebut memperlihatkan pemanfaatan blind spot dan window of opportunity. Para pelaku mengeksploitasi kelengahan petugas jaga (waker) dengan mengeksekusi sea-based approach menggunakan perahu motor melalui lambung kapal, guna meretas pengawasan perimeter darat secara terselubung.
Dari penelusuran investigatif awal, aparat mengidentifikasi tiga terduga pelaku utama berinisial B (36), I (29), dan M (36) dari kawasan Kampung Nelayan Seberang. Ketiganya saat ini berstatus buron dan menjadi target penindakan hukum secara intensif.
”Pengungkapan ini merupakan perwujudan komitmen fundamental TNI Angkatan Laut dalam menjamin maritime domain awareness serta mengamankan infrastruktur logistik strategis di wilayah kerja Kodaeral I, khususnya perairan Belawan,” tegas Komandan Kodaeral I.
Melalui pengembangan kasus yang regresif hingga ke rantai penadahan, petugas menyita barang bukti material berupa kabel tembaga yang telah mengalami pengerusakan fisik (dipotong dan dibakar) dari tangan tersangka berinisial W. Di sisi lain, business continuity dan stabilitas rantai pasok (supply chain) kapal dapat dipertahankan setelah agen PT BBN merespons cepat dengan mengganti seluruh komoditas kabel yang rusak, sehingga operasional pelayaran kapal berjalan tanpa kendala komersial.
Sebagai respons mitigatif yang berkelanjutan, Kodaeral I mengeskalasi intensitas sea patrol pada jam-jam rawan di sepanjang alur pelayaran Belawan. Langkah prediktif ini disinergikan dengan KSOP Utama Belawan untuk melakukan evaluasi ketat atas ketaatan International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code.
Sinergi lintas sektoral ini krusial demi mempertangguh reputasi Selat Malaka sebagai strategic chokepoint dunia, sekaligus meminimalisasi catatan risiko keamanan pada lembaga pemantau maritim internasional seperti ReCAAP Information Sharing Centre (ISC) dan International Maritime Bureau (IMB). (Nelson Siregar/Dispen Kodaeral I)
















